Suara hujan pekak menganggu telinga. Sudah seminggu Raina tidak bisa tidur karena hujan sangat deras di luar. Air hujan tak hanya masuk melalui lubang-lubang atap seng saja, tapi mulai menyusup diam-diam masuk ke sela-sela pintu rumah Raina yang terbuat dari sisa-sisa triplek.
Bukan karena suara petir saja yang membuat Raina terganggu, tapi atap rumah Raina yang terbuat dari seng, sontak membuat suara hujan yang jatuh di atap seperti orang memukul-mukul seng membuat Raina sesekali melihat ke atas langit-langit kamarnya. Raina ketakutan kalau atap seng ini akan rubuh menimpa tubuh kurusnya. Belum lagi bocoran atap yang membuat Raina harus bergeser-geser posisi tidur.
Di luar kamar Raina, Kasim sang Ayah tengah sibuk berjaga-jaga kalau-kalau air hujan masuk ke dalam rumah semakin banyak. Sepuluh baskom plastik sudah sedia di tempat masing-masing, siap menampung bocoran air hujan dari atap rumah. Bolak-balik Kasim mengecek garis yang di buatnya di depan pintu, untuk mengukur seberapa air yang sudah masuk.
5 gelas kopi hitam sudah ia teguk mulai dari pukul delapan malam hingga pukul 3 pagi. Matanya sudah mulai berair menahan kantuk. Tapi diurungkannya, ia terus terjaga dari malam hingga subuh ini. Setiap baskom yang telah penuh air bocoran, Kasim membuangnya ke luar.
"Ayah ... "rengek Raina berjalan ke luar kamarnya.
"Rainaa ..."Kasim kaget melihat Raina basah kuyup. "Putri ayah kenapa bajunya basah ?" tanya ayah sambil menyeka air yang ada di wajah Raina.
Raina menatap wajah ayahnya dan memeluk ayahnya erat. "Ayaahh, Raina takuttt, "ujar bibir Raina sambil mengigil kedinginan.
"Putri ayah jangan takut ya, ayah di sini sayang. Ayoo sekarang putri ayah tukar bajunya, lalu kembali tidur ya, " Kasim memeluk erat putri semata wayangnya dan mencium keningnya, mengelus-elus rambutnya.
Sebulir air jatuh menimpa pipinya yang mulai berkerut. Kali ini bukan air hujan, tapi air mata kegetiran Kasim yang tinggal di rumah seng sepetak di gang sempit Ibu kota. Di ingatnya lima tahun yang lalu, Kasim harus ikhlas melepas kepergian istri yang sangat dicintainya. Ibu dari Raina harus meregang nyawa saat banjir hebat melanda Ibu kota dan lima tahun yang lalu Raina harus lahir prematur, saat rumah yang ditinggalinya sekarang banjir.
"Ayah, ayah kenapa belum tidur ?" tanya Raina di dalam pelukan Kasim.
"Ayah belum mengantuk sayang". Raina menatap tajam bola mata ayahnya, untuk mempertegas apakah memang ayahnya belum mengantuk.
Untuk mengalihkannya, Kasim hendak mengambil baju ganti Raina. "Putri ayah tunggu di sini ya, ayah akan ambilkan salinan baju yang kering, "
Untuk mengalihkannya, Kasim hendak mengambil baju ganti Raina. "Putri ayah tunggu di sini ya, ayah akan ambilkan salinan baju yang kering, "
Kasim masuk ke dalam kamar Raina. Sebentar Kasim menahan nafasnya saat menyibakan gorden sebagai pintu kamar. Kasim lekat-lekat memandang sekeliling kondisi kamar Raina, kamar yang pernah ia tempati. Tak ada sehelai tikar pun, sebagai alas tidur Raina. Hanya kardus lembab dan basah yang di alasi dengan baju Raina. Raina tidur di atas lima potong bajunya, agar tidak kedinginan.
Kasim pun mencoba mencari baju Raina yang lain. Sayangg, hanya ada satu stel jas hujan tergantung di dinding kamar yang semakin beku. Kasim tercekak. Tak kuasa lagi membendung air matanya. Suara lirih tangisannya tak kuasa ia sembunyikan. "Rainaaa, maafkan ayah ..."
"Ayah ... "seru Raina dari luar kamarnya.
*bersambung*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar