Rabu, 09 Juli 2014

Yoga ala-ala aku


Menikmati alam dari puncak. 
Memandangi luas, tanpa batas.
Dan aku suka Yoga ala-ala aku ...
Yoga di atas batu, sambil memandang karunia Tuhan 
hihihihi :)

Crown ala-ala aku









Selasa, 08 Juli 2014

Stella Tiga dan Aku pun rindu (tiba-tiba)

Stella tiga. Tiba- tiba aku teringat nama jalan ini. Sungguh nama jalan ini begitu istimewa sampai usiaku beranjak dua puluh delapan.

Bukan soal tempat dimana aku bertemu dengannya. Bukan, bukan sama sekali. Aku tidak pernah bertemu dengan siapapun disana. Bukan soal meretas cinta pada pria, tapi merekam cinta pada masa kecil. Masa kecil yang kurindukan bisa kembali. Dan itu menjadi ingatan sepanjang hayatku.

Stella tiga, tempat kakiku mulai belajar berjalan, awal mulai hidungku merasakan nikmatnya karunia Tuhan yang kuhembus saat aku lahir ke dunia. Tempat pertama kali aku merasakan dekapan tangan orang-orang terkasih.

Aku lahir di sini, aku besar di sini, Stella Tiga. Aku belajar menjadi balita, merasakan semua kebahagiaan masa kanak-kanak, tanpa negosiasi.

Bermain gundukan pasir di depan rumah, memanjat pohon mangga kweni dan alpukat, dari sini aku sadar berawal dari situlah hobiku memanjat gunung.

Bermain di rumah pohon nangka yang dibuatkan Almarhum opung dari sisa kawat bangunan, dari atas itu aku senang bermain teriak-teriakan dan tiba-tiba bergelayutan sepeti monyet , dari situlah aku sadar aku senang sesuatu yang spontan dan tidak bisa diam.

Sore hari, air hujan memandikan rumput-rumput dan tanaman di jalan Stella tiga persis di depan rumah Opung, tidak lupa hujan juga turut andil memandikan tanah, pasir dan aspal. Tidak perduli opung yang sudah tua, harus tertatih menarik tanganku untuk tidak bermain di bawah hujan. Hujan begitu membuatku tertarik dengan semesta. Akalku bertanya, langit sama cengengnya denganku, langit suka menangis seperti aku. Dari sana aku tersadar, betapa aku terlalu cengeng. Menangisi segala sesuatu yang sudah lewat, terkadang berteriak tanpa suara, hanya desau nafas seperti angin tersapu hujan.

Belum lagi, hobiku yang membuat aku geli tertawa mengingatnya. Bermain dengan kotoran ayam atau pup ayam yang masih hangat. Karena, opung mempunyai peliharan ayam dan aku rela masuk ke dalam kandang ayam untuk mengambil kotorannya, sampai-sampai perutku yang buncit dipatuk ayam jantan peliharan si opung.

Setiap aku menceritakan cerita tentang masa kecilku yang satu ini, semua orang yang mendengar spontan memandang jijik, dan menutup mulut, setelah itu tertawa terbahak-bahak. Memilin kotoran ayam seperti mainan lilin tanpa rasa jijik, salah satu kenangan yang tidak pernah kulupa. Aku sampai sekarang tersadar betapa kampungannya aku saat itu. Polos, lugu dan ahh memalukan sekali.

Asal kalian tau, bukan aku tidak punya mainan kelas menengah,  Setiap papa atau opung pulang dari luar kota, salah satu isi tasnya adalah mainan, ya mainan mobilan atau buku bergambar. Jangan bertanya kenapa bukan boneka, atau Barbie ya. Tapi semua mainan itu tidak kusentuh, aku lebih tertarik dengan kotoran ayam ini. Kupilin menjadi ular, menjadi kepala, menjadi segitiga, bulat kemudian kulempar ke tembok putih di sebelah garasi rumah opung. Gara-gara hobiku mengotori tembok garasi, opung harus mengecat minimal sebulan sekali.  Dari sini aku tersadar, aku senang membuat sesuatu tanpa batas, berimajinasi yang terlalu kekanak-kanakan.

Oh iya, ada lagi yang membuatku teringat dengan Stella tiga. Di antara semak rumput yang rimbun, aku menangkap belalang coklat, lalu kugoreng bersama teman-teman masa kecil dengan alat memasak mainan. Satu persatu kami mencicipi hasil buruan belalang kami. Renyah seperti keripik. Dan aku baru ingat, dari sini aku makan tidak pernah pilah-pilih, makanya bentuk badanku sekarang tidak bisa dibohongi.

Begitu banyak cerita yang terekam di stella tiga, dan aku ingin sekali menuntaskan dalam tulisan singkatku ini. Bagiku stella tiga tidak sekedar sebuah jalan, tapi sebuah mimpi, sebuah keluarga dan sebuah kehidupan. Ahh aku tidak bisa menunjukan pada kalian (*pembaca.red) betapa aku ingin kembali pulang ke sana. Ke rumah di sebuah sudut kota medan, berpagar merah bata dan sampai rumah itu pun dijual, pagar itu tetap mempertahankan warna merah bata.

Ada lagi cerita tengan kecebong. Kecebong. Iya aku ingat sekali suka menangkap kecebong di selokan depan rumah opung. Mengurung kodok, di dalam ember bekas cucian mobil. Sampai-sampai kodok dan kecebong itu melompat ke wajahku, hampir saja aku dikencinginya.

Dan salah satu kenangan kecilku di stella tiga yang kubawa sampai sekarang adalah hobiku bercakap-cakap sendiri di atas pohon jambu biji. Aku senang bercakap-cakap seperti dua, atau tiga orang. Aku menjadi diriku, sekaligus aku menjadi dua orang lainnya dengan suara berlainan dan bertingkah sesuai peran yang aku mainkan. Ahh, dari sini aku tersadar dan sangat tersadar, kenangan kecilku yang satu itu membawaku kepada pekerjaanku sekarang, dan aku akan melanjutkan kisah ini di tulisan lain.

Dan aku ingat betul, Bou pernah memukulku dengan sapu lidi bila aku tidak tidur siang karena aku selalu bercakap-cakap sendirian di dalam kamar, kadang di bawah tempat tidur sambil memainkan pena opungku, sebagai orang-orangan. Almarhum opung sering kelabakan mencari penanya untuk menulis atau menandatangani surat rekan kerjanya.

Aku ini aneh. Ya sangat aneh. Bukan satu dua orang yang menjudge-ku aneh. Mantan kekasihku pun kerap dibuat pusing dengan tingkah anehku ini. Dia harus banyak bersabar menghadapi kenanehanku. Aku ingat, dia selalu berkata, untuk segera kembali ke bumi, dan jangan terlalu banyak mengkhayal.

Dari kata-katanya suatu saat akan kubuktikan khayalan masa kecilku akan membawaku kepada kebahagiaan sejati. Sampai sekarang aku tidak pernah menyesal menjadi orang aneh. Nafas dari keanehan, dan berjalan dengan keanehan. Karena aku mencintai setiap cita rasa masa kecilku yang aneh.

Aku tumbuh dari nostalgia keanehan di stella tiga. Menyendiri, menari di bawah hujan, memanjat pohon, berguling-gulingan di atas pasir, menangkap kecebong, kodok dan belalang, bermain kotoran ayam, ahh masih banyak lagi dan aku yang sebenarnya ingin menulis semuanya di sini, harus menundanya. Aku tidak ingin saat menulis kenangan itu rasanya menjadi berbeda. Aku ingin tetap menjadi kanak-kanak, aku ingin tetap seakan ada di stella tiga.

Semoga suatu saat aku bisa mampir ke sana, meski Stella tiga itu bukan menjadi bagian keluargaku. Tapi sungguh-sungguh kenangan itu tidak bisa direbut orang lain.

Dan paragraf terakhir tulisanku, aku berjanji akan melanjutkan cerita Stella Tiga, bersama keluarga dan keanehanku yang lainnya.

Terima kasih Stella Tiga, semoga pemiliknya sekarang menjaga kenangan kami di sana, meski sekarang hanya menjadi rumah tua, kenangan itu tetap hidup sampai sekarang. :(

 *sayang aku tidak punya photo rumah itu secara utuh :(

Salam,

Catherine Fr 


Kenangan akan jalan itu menua, seiring usia kami satu persatu yang semakin tua. 

Minggu, 23 Maret 2014

Bermimpilah bersama Gambarnya :)

Jatuh hati itu indah. Indah seindah saat aku mengingat tentang doa yang dijawab oleh Tuhan.
Jatuh hati itu menakutkan, setakut aku yang hanya bisa bermimpi.
Cuma mimpi, dan merengkuhmu dalam doa. Semoga kamu baik-baik saja.
Saat aku memejamkan mata, aku bisa merasakan kedamaian. Disanalah aku bisa, merindukan kamu tanpa dusta. Memikirkan kamu tanpa takut kecewa. Kini dalam diam, aku bisa merasakan betapa aku pun bisa bahagia, asal aku bisa terus bersama dengan mimpi-mimpi itu, ya bersama dengan gambar-gambarmu.
Seperti nafas yang terus berhembus, begitu juga mimpi ini aku selalu berhembus.
Seperti awan yang terus menari-nari di angkasa, begitu juga dengan mimpi ini yang akan terus menari-nari di kepala. Sejauh angin yang membawaku melayang, dan aku ingin bergandengan dengan kamu. Entah kapan!
Kataku, rindu seperti jarak yang membuatku menahan mulutku untuk menyebut namamu.
Kataku, kamu seperti obat yang memekakkan telinga karena teriakan suaraku sendiri.
*Bermimpilah bersama gambar-gambar itu ...

Le'Gra,



Chaterine


Noted : Prosa tanpa tujuan

Minggu, 29 Desember 2013

Mauku ...

Bergerak sesenti pun tidak ...
Merasa di hilangkan, di lupakan
Ini mauku sebenarnya, tapi mengapa tanpa permisi dan kata selamat tinggal.

Haruskah akhir tahunku kelabu, cukup Tuhan, aku batinku sudah lelah.
Mencari dari setiap gerakan tanganmu, merasa di lepaskan ..

Tak ada perjuangankah kita selama ini,
Ini mauku, pada akhirnya harus terluka lagi dan lagi ..
Mengertilah apa mauku, mengertilah ...

Terlalu tergesa-gesakah kabar ini,
Berdusta lagikah takdir padaku ?
Siapa yang harus menanggung beban ini nanti ...

Haruskah diakhiri dengan kata HILANG, pergi ...
Pergi, membiarkan jemariku mencari kamu 
Semoga kamu pergi belum jauh ...

Separah inikah, rasanya ?
Tuhan, semesta bisakah berlaku adil pada jalanku ...

*buatkan apa mauku ...

Cheers,

Catherine 

Selasa, 10 Desember 2013

Buku 9 tahunan

9 tahun terasa seperti membaca sebuah buku. Bersama kamu aku melewati banyak cerita setiap bab dan per halamannya. 9 tahun sudah kita menyelesaikan buku tebal yang seolah-olah tak ada habisnya dibaca.

Seperti membaca sebuah prolog pada halaman pertama, begitulah aku yang sudah jatuh hati sejak membaca halaman pembuka. Halaman itu seolah tak ingin ku ganti dengan halaman berikutnya. Setiap hari aku jatuh hati, dengan kata aku, kamu, mimpi dan semangat.

Kita sudah menulis cerita dalam buku itu juga, dan sama-sama sudah kita baca berulang kali. Kita tau buku itu terlalu panjang untuk kita baca bersama lagi. Tak ada daya lagi melanjutkan cerita dalam buku kita. 

9 tahun sudah kita membaca buku itu bersama. Melewati cerita yang penuh riak dan rasa. Dan rasanya tak ingin menyelesaikan cerita dalam buku yang kita baca itu. Pada akhirnya kutemukan pada bab akhir sebelum halaman akhir. Tak ada kata ^kita^ , kini yang tertinggal satu nama singkatmu, dan inisial namaku di akte kelahiranku.

Sampai pada sampul kutemukan halaman kosong yang belum banyak coretan. Tersemburat beberapa baris huruf pada halaman itu,
To be continue
or ..
the end


Le^gra

Cath

Selasa, 03 Desember 2013

Cintaku Mentok Di Mahameru (Projek dadakan)

Prolog basa-basi ....

Ahhh cerita ini harus aku mulai darimana ya. Banyak cerita yang ingin kubagi di blog kesayanganku ini. Sekian banyak cerita, dan semua kenapa harus menyangkut di kepala ya. Mulai dari kenekatan trip ke gunung, persiapan, eksekusi sampai pada situasi sayonara * yap perpisahan. Bagian ini paling gak enak deh untuk diceritain. Mending daripada berbasa-basi busuk di pembukaan ini, cerita perjalanan ini mulai digarap per part-nya. *nunggu mood dan kerjaan lain beres. Pada akhirnya tercetuslah membuat ide cerita Cintaku Mentok di Mahameru. Mmm seperti apa, yuk stay tune di chanel ini. *apa sih … hehehe.

Wokeh. Baiklah teman-teman yuk tarik nafas dalam-dalam kira-kira apa ceritanya dan siapa saja yang kebagian di cerita ini. Wuihh, pasti pada nyari satu-satu yang ada nama kalian kan. *hayooo ngaku deh. Ketauan deh, nyari nama masing-masing. hahaha. Wokeh wokeh, daripada kalian duluan bosan baca prolog-kan ini, yuk maree berangkat di Chapter satu yang punya Ikus, Afri, Fuad, Harun, dan mba Novi. *kalau saya gak usah dimasukin namanya. "Perkenalan tak terduga di Matarmaja". *ehm ehm ...





Episode Satu : Perkenalan di atas Matarmaja.



"Mba, kamu di mana ? " ucap salah suara yang belum pakai opening hallo, langsung menyambar kupingku dengan kata-kata DIMANA !!. *huft untung suara cempreng ini baik hati dan tidak nakal.

"Mmm ya, ini siapa ?" jawabku yang memang gak tau nomor simpati siapa yang masuk ke ponselku. 0812 sekian sekian.
"Ikus ... mba dimana, aku sudah sampai di Cikini nih, " ucapnya dengan nada semangat berkobar-kobar. Mmm, kayaknya kita sudah smsn daritadi, ini kali pertama aku dengar suara si Neng Ikus ini. 
"Aku sudah di Cikini, kamu dimana, di lantai atas dekat .... " 
Yaelah, belum juga aku menyelesaikan perkataanku, sosok perempuan tomboi dengan kemeja kotak-kotak merah marun, dengan handuk biru di pundak macam kernet sudah menunggu di balik punggungku. Jujur sebenarnya aku belum hafal betul wajah si Neng ikus ini. Tapi nebak boleh nebak, dari style gayanya dengan tas carier gunung kegedeaan di badannya, dan sepatu yang katanya mirip dengan kenalan di kereta, akhirnya dengan mantap aku yakin inilah perempuan yang ku tunggu *cielah ... Neng Ikus, yang kukenal dari kenekatannya kenalan melalui whatsapp yang nomorku didapat dari mas Is, yang punya projekan trip itu lho, yang kurus, tinggi, yang ganteng. *ehh

"Mba Ikus ? " kataku agak ragu. 
"Iya ". Kami berdua pun langsung berkenalan dan si Neng Ikus ini mulai dengan keramaian suaranya. Mengobrol ala perkenalan ABEGE sambil nunggu temanku si Harun yang sedang menunaikan ibadah sholat di mushola stasiun Cikini. 
"Sendiri mba ? " tanya si eneng Ikus.
"Berdua, sama teman. Lagi sholat dia, di sana !" kataku kayak putri malu-maluin. Hihihi.
Saat asyik mengobrol soal ini itu, bla-bla, soal bawa ini bawa itu, sang pangeran datang *eng ing eng jeng jeng. Harun, teman sekampus ku datang dengan wajah segar dan rambut basah.
"Ini kenalin teman bareng nanti, Harun, " kataku memperkenalkan Harun. Dan ini "Ikus run, " kataku memperkenalkan Ikus. Perkenalan pertama terlaksana, saatnya bergerak ke stasiun selanjutnya, stasiun Pasar Senen. 
"Naik apa kita, " tanyaku pada Ikus sambil menuruni tangga. 
" Bajai saja mba, kita bisa patungan bayarnya. Biar cepat sampenya, soalnya aku mau nuker tiket, pesen di online nih, " jawab Ikus. *cepat, mang bajainya terbang---apa sih.

Sampai di pinggir jalan, kami bertiga bak artis, selebritis papan atas. Setiap orang-orang melambaikan tangan pada kami bertiga, berlomba-lomba minta tanda tangan, eh salah deng, nawarin ojek sebenarnya. Hahaha. 

Tanpa ba bi bu be bo, Ikus menghampiri si driver bajai cinta lingkungan, bajai BBG. "Pak, stasiun senen ya, " katanya nyaring. Si driver, dengan perut buncit dan topi kumal itu sejenak tidak menjawab. Dia memperhatikan kami dari ujung rambut sampai ujung kaki, sampai-sampai tas carier di punggung kami ikut dia perhatikan. Seperti orang diadili. " Stasiun senennya mba, mau ke jawa ya ?" 
"Iya " jawab kami serempak. "berapa ?" tanya si ikus.
"30 ribu ya" Tanpa tawar menawar, kami naik ke dalam kendaraan setrikaan itu. 

Ikus pertama masuk, aku dan harun terakhir. 3 Penumpang dengan 3 tas carier membuat bajai yang memang berukuran terbatas ini, jadi padet dan penuh. Untung jalanan selama salemba, kramat dan kawan-kawannya bersahabat. Beberapa saat kemudian kami sampai di gerbang stasiun. 

Si bajai tepat berhenti di depan loket penukaran tiket. 3 lembar uang 10 ribuan berpindah tangan ke driver bajai. Tak lupa kami berterima kasih pada si driver. Bajai pun perlahan menghilang, dan kami langsung mengantarkan Ikus ke loket penukaran.

Setelah menukar tiket, dan ditraktir makan siang oleh Harun, kami menuju pintu masuk pengecekan tiket. Sebelum kami masuk ke dalam, seorang ibu kenalan tak terduga, turut mendoakan keberangkatan kami ke Malang dan Semeru. Kalau tidak salah si Ibu bilang, "Hati-hati ya neng, sekarang lagi hujan deres. Banyak-banyak doa, " Doa ibu itu pun mengantarkan keberangkatan kami. Huft ...

Sampai di dalam gerbong, aku dan harun menduduki posisi gerbong 2 dan bangku nomor 14 c dan d. Sementara ikus dan kawan-kawan yang belum aku kenal, di gerbong 1 dan 5.

Setelah mengkondisikan tas dengan space kaki di kaki, aku mulai duduk tenang. Harun pun sibuk dengan bb-nya. Kami larut dengan mesin teknologi di tangan kami, tanpa kami tau ternyata kereta pusaka para backpacker "Matarmaja" beberapa menit kemudian akan segera berangkat. 

Belum beberapa menit, Ikus datang bersama teman di sebelahnya. "Mba, mas kenalin ini teman kita satu trip juga, " 
"Fuad, " jawab pria mungil, tertampan hari itu di kereta matarmaja  *cielah ... sebenarnya aku tidak ngeh-ngeh banget siapa namanya, tapi ya sudahlah ya, daripada nanya lagi.
"Mba, kalau dari cakung ke stasiun senen jauh gak ? "
"Jauh, memang kenapa neng ?"
"Teman-teman yang lain masih di jalan, " katanya panik. 
"Ohh terus gimana ? " tanyaku dengan nada agak santai, sebenarnya panik juga sih. hehehe. 
Sambil rempong dengan handphonenya si eneng Ikus jawab, " Ini aku coba mengubungi mereka, kemungkinan mereka menyusul naik kereta berikutnya, " jawabnya sambil pamit meninggalkan aku dan harun di bangku menuju bangku mereka.

Setelah kepergian neng Ikus dan Mas mas yang belum kuketahui sebenarnya namaya (*jujur ini beneran gak inget namanya waktu itu). Aku kembali dengan kesibukanku sendiri. Kereta belum jalan saat itu, dan aku tidak ingin memikirkan banyak hal. Satu hal yang kupikirkan, cepatlah kereta ini membawaku pergi sejauh mungkin. *cielahh, terus teman-teman yang lain gimana ? Keket keket, kamu lupa kalau teman kamu masih di jalan dan belum sampai di stasiun senen ini, bisa-bisanya mikir kayak gitu*

Wokeh lanjut. Aku mulai memperhatikan seorang ibu dan anaknya yang tepat duduk di depanku. Gadis remaja yang lugu dengan stelan jaket tebal. Tampaknya gadis remaja itu, belum terbiasa naik kereta. Terlihat dari wajah paniknya menyoroti wajahku dan harun yang tampak asyik berceritaa dan ber ha ha hi hi ... Ibunya selalu sigap membetulkan posisi baju atau jaket anaknya supaya tidak ada yang tersembul yang bisa dilihat oleh Harun *upss ... atau siapalah yang lewat. Ibu ini sayang sekali dengan gadis remajanya.

Next... beberapa menit kemudian, si matarmaja ini meneriakan terompet andalannya, bunyinya gak kalah cempreng sama suara Neng I**s. Tett teeet. :P ... Yap finally kereta berjalan, saat itu aku sedang melamun dan lupa kalau teman-teman masih di jalan. Maaf yaa. 

Tak berapa lama si Neng ikus dan pria kurus kecil yang tadi datang bersamanya, kembali dan melaporkan kejadian dari a sampai z. Jujur, aku belum ngeh. Telat mikir tepatnya, dan belum sadar apa yang terjadi. *ini JUJUR*. Kedua temanku ini menjelaskan panjang kali lebar, kronologinya. Harun tampak mengerti dari penjelasan mereka, aku ?? Nopeee. Aku cuma ngeliatin aja, tanpa ngerti satu hal pun. *maaf ya, badan doang di kereta, pikiran mah gak tau kemana, karena keasyikan melamun*

Neng ikus dan teman prianya itu pamit menuju gerbong 5. Mereka pergi, aku pun bertanya dalam hati. Ada apa sih sebenarnya ... Okeh aku kembali melamun, menatap keluar jendela. Samar-samar, kereta ini mengaburkan pandanganku tentang Jakarta. Sewaktu lewat stasiun cakung aku bilang sama harun, "Runn, ini cakung" ... Dengan santai temanku ini cuma menjawab, "Iya Cakung terus kenapa, gak bisa berhenti juga Cath. ". Okeh okeh. 

Ini cerita agak sedikit lebai deh. Tiba saatnya si matarmaja melewati stasiun .... (sensor) yang sering aku singgahi bersama seseorang di sana. Berderet bangku besi, dan aku masih ingat betul dimana posisi aku duduk bersamanya tempo hari. *cielah Keket* meski sudah agak lewat stasiun itu, aku masih menatap stasiun itu lekat-lekat, mencoba memutar rekaman di otak bersama ... *uhuk* batuk. 

Balik lagi ke cerita. Beberapa menit kemudian, neng ikus dan akhirnya ku tahu namanya setelah tiga kali bolak-balik ke bangkuku, itupun karena neng Ikus menyebut nama pria itu beberapa kali. Yap Fuad... mas Fuad. Okeh langsung aku rekam dalam otak. *ingatan soal nama memang sering menjadi kendala dalam bersosialisasi* "Mbaa, tadi kita ke gerbong 5, kan mas Fuad sudah pesan 5 tiket buat teman-teman yang ketinggalan. Mba sama mas pindah aja ke sana. Biar lebih enak istirahat. Bisa selonjoran, nanti mba Afri sama mba Novi aja .. " kata neng Ikus. 
"Iya, nanti mba Afri ke sini ya, pakai jaket ijo, pakai jilbab, " jawab mas Fuad.
Tunggu-tunggu maksudnya apa ya ... Mba Novi mba Afrii... koq aku baru ngeh ada teman baru juga ... Harun pun menjawab ok. Ya, untung harun ikut, jadi dia bisa menjelaskan lagi satu per satu. Kenapa dan ada apa sebenarnya. Neng Ikus dan Mas Fuad pergi, Harun menjelaskan dengan sabar. "Ohhh begituu ... " jawabku. Ya Tuhan, jadi sesimpel itu maksudnya, kenapa aku gak ngerti-ngerti ya...

Tak berapa lama, si Mbaa ... *ini juga aku belum tau namanya* datang. "Ayoo kita ke gerbong 5, " tanpa ba bi bu be bo. Dalam hati aku bertanya, ini mba yang mana ya ? Mba Novi apa mba Afri ya ... Sudahlah, nanti juga kenal, kataku waktu itu. Harun mengambil tas carrierku dan segera aku membawa serta pindah dari gerbong 2 ... 

Nahh, perkenalan selanjutnya dimulai. Sampailah di gerbong 5. Seorang perempuan keriting berkacamata menyambut kami. " Noviii" oh ya ya Mba novi. Jadi yang tadi nyamperin mba Afri namanya. Kami berempat pun saling berkenalan. And then ... mba Afri dan mba novi sepertinya mereka asyik mengobrol. Aku dan harun duduk berhadap-hadapan.

Hingga besok pagi, sesampainya di Malang, apa yang akan kami lakukan di dalam kereta ini. Bisa ditebak, kalau gak apdet status di FB, bbm, Path, Friendster (emang msh ada ya :P) ngetwit gambar, dengerin lagu, baca buku, makan cemilan, ngobrol ngalur ngidul, kenalan dengan penumpang lain *kalau ini aku rada jarang, kecuali ada cogan yang duduk dekat-dekat situ. hahaha*, terus memandang keluar jendela yang sebenarnya gak tau apa yang mau di lihat, Bolak-balik lihat jam, bales sms, wa-an, mantau sosial media, browsing, telepon ;pacar, mantan, inceran, teman, keluarga. Ke kamar mandi, tidur, pura-pura tidur, dll. Nah, kalau kamu apa yang biasa kamu lakukan teman, selama di perjalanan kereta ? Jawab satu-satu ya ... *aku dulu yang jawab ya. Aku biasanya pura-pura tidur sampai tidur beneran. hahaha. Kalau Harun, biasanya telepon pacarnyaa. *ok selama di jalan aku dicuekin*. Mba Afri, habis mengobrol langsung tidur dengan posisi kaki di lipet. Mba Novi ? Habis mengobrol, baca-baca, pegang hape, langsung tidur. Neng Ikus ? hahahha ini dia, jawara yang satu ini gak ada abisnya buat HEBOH. Tengah malam aja si eneng Ikus masih adpet status. *prok-prok* 

Satu status yang si neng Ikus apdet, dan menjadi bahan bully-an sepanjang jalan kenangan sampai sekarang, adalah soal cowok backpakeran. Kira-kira begini apdetnya saat itu. "ketemu sama cowok-cowok backpaker depok, rasanya sesuatu ..." apalah gitu. Intinya si eneng Ikus ini senang banget. Apalagi setelah dapat informasi dari narasumber terpercaya saat itu yang tidak mau disebutkan namanya ini, si eneng sempat melancarkan niat permodusannya. "Si ikus, bisa-bisanya nanya charger. Jelas-jelas ada guweh. Heii ada guweh ... hellowww, *baca ala alayer-red* " ujar narasumber tersebut. Terus yang dilakukan si eneng ini, mengobrol. Ada satu cerita tentang sepatu yang samaan, sama seseorang backpaker kenalan itu. *uhuiii* Dari kenalan, turun ke chargeran, eh nyangkut di sepatu, eh lanjut ke hati. Dan ada kelanjutan ceritanya pas di angkot Malang, soal janji Ikus di Mahameru *ceritanya di skip dulu ya* Hahaha. 

Nah kalau ditebak-tebak, mas fuad ini biasa melakukan survei kecil-kecilan dengan sekitar. Pengamat permodusan dan pendamping Ikus di kereta. Hehehe.*maaf ya mas Fuad, kita kan gerbongnya pisah, jadi aku gak lihat kamuh*

Perkenalan tak terduga di kereta andalan para backpaker ini pun berbuah cerita manis, kenangan yang pasti selalu di rekam olehku, kamu, kami, kita dan semua. Ikus, mas Fuad, Mba afri, Novi dan 8 orang backpaker Depok. 

Hingga esok pagi, kereta ini akan membawa kami tiba di Stasiun Malang. Berkenalan lagi dengan sosok-sosok luar biasa dan humble, penuh senyum. Sekarang waktunya kami terlelap dalam perjalanan di kereta ini. *dan aku punya cerita sendiri di judul lain lho*


Dalam tidur kami bermimpi tentang indahnya alam di Indonesia raya.
Kopi, kopi, teh, teh, pop mi, mizon ...
Diantara teriakan penjaja kaki lima itu, kami bertarung mimpi dengan dingin malam.
Tak ada yang kami takutkan, karena kami punya tekat.
Tak ada yang kami ragukan, karena kami punya mimpi,
Tak ada yang membuat kami sepii, karena kami punya kalian
Sahabat, di tengah perkenalan tak terduga.
Kalian yang kami punya, keluarga di derasnya mimpi...
tawa, canda, tangis, kecewa akan kubawa sampai nanti ...

 02.00 dini hari





Lanjut ke Episode II - Senyumnya Langit Kota Malang

Bocoran : Nah episode ini punya Neng Ikus, Mas Fuad, Adit, Mba Nita, Mba Afri dan Harun pas diangkot sampai ke Ranupani ......