Senin, 28 Oktober 2013

Rabu, 23 Oktober 2013

Selasa, 22 Oktober 2013

Belajar

Sementara Tuhan membuat skenario untuk peranku, maka aku belajar menjadi Ibu yang baik.

Loves,

Catherine


Minggu, 18 Agustus 2013

Gak tau rasa apa ini.

Banyak yang tak terkatakan saat raga ini ingin pergi darinya.
Banyak yang tak tersampaikan ketika jiwa ingin meninggalkannya.
Bukan mati. Bukan musnah. Hanya pergi beberapa waktu saja, hanya menghilang beberapa waktu saja.

Sudah saatnya aku menikmati hidup, bukan menikmati sakit.
Sudah waktunya aku menyenangkan diriku, bukan menyenangkan orang lain.
Dan sudah sepantasnya aku melepaskannya, agar aku bisa berjalan.

Tuhan tolong kakiku pincang. Kakiku sakit.
Tuhan aku ingin berlari, berlari, berlari meninggalkan semua rasa memuakan ini.

Aku sendiri juga tidak tau apa rasanya ini. Ini kenapa ? dan ini mengapa.
Yang pasti merasakan rasa seperti ini tidak nyaman.
Ingin sekali kuhancurkan. Ku lenyapkan, kubenamkan sedalam mungkin.

Ahh entah apa ini. Rasanya tidak bisa dimengerti.
Ada yang salahkah. dari diri yang Tuhan sudah ciptakan bagiku ?
Engkau yang menitipkan rasa ini Tuhan, bantu aku Tuhan untuk menjalani rasa ini.

Gak tau Tuhan rasa apa ini. Entah, belum ada jawabnya sampai sekarang.


Terima kasih Tuhan.


Catherine

Tentang Puasa

Pertanyaan: Puasa Kristen – apa kata Alkitab?

Jawaban: Alkitab tidak memerintahkan orang-orang Kristen untuk berpuasa. Puasa bukanlah sesuatu yang dituntut atau diminta Allah dari orang-orang Kristen. Pada saat yang sama, Alkitab memperkenalkan puasa sebagai sesuatu yang baik, berguna dan perlu dilakukan. Kitab Kisah Rasul mencatat tentang orang-orang percaya yang berpuasa sebelum mereka mengambil keputusan-keputusan penting (Kisah Rasul 13:4; 14:23). Doa dan puasa sering dihubungkan bersama (Lukas 2:37; 5:33). Terlalu sering fokus dari puasa adalah tidak makan. Seharusnya tujuan dari puasa adalah melepaskan mata kita dari hal-hal duniawi dan berpusat pada Tuhan. Puasa adalah cara untuk mendemonstrasikan kepada Tuhan, dan kepada diri sendiri, bahwa Anda serius dalam hubungan Anda dengan Tuhan. Puasa menolong Anda untuk memperoleh perspektif baru dan memperbaharui ketergantungan pada Tuhan.

Sekalipun di dalam Alkitab puasa selalu berhubungan dengan tidak makan, ada cara-cara lain untuk berpuasa. Apapun yang dapat Anda tinggalkan untuk sementara demi untuk memusatkan perhatian pada Tuhan dengan cara yang lebih baik dapat dianggap sebagai puasa (1 Korintus 7:1-5). Puasa perlu dibatasi waktunya, khususnya puasa makanan. Tidak makan dalam jangka waktu yang panjang dapat merusak tubuh.
Puasa bukan untuk menghukum tubuh Anda, tapi untuk memusatkan perhatian pada Tuhan. Puasa tidak boleh dianggap sebagai salah satu “metode diet.” Jangan berpuasa untuk menghilangkan berat badan, tapi untuk memperoleh persekutuan yang lebih dalam dengan Allah. Benar, siapa saja bisa berpuasa. Ada orang-orang yang tidak bisa puasa makan (penderita diabetes misalnya), tapi setiap orang dapat untuk sementara meninggalkan sesuatu demi untuk memfokuskan diri pada Tuhan.

Dengan mengalihkan mata dari hal-hal dunia ini, kita dapat memusatkan diri pada Kristus dengan lebih baik. Puasa bukanlah cara untuk membuat Tuhan melakukan apa yang kita inginkan. Puasa mengubah kita, bukan Tuhan. Puasa bukanlah cara untuk kelihatan lebih rohani dibanding orang lain. Puasa harus dilakukan dalam kerendahan hati dan dengan penuh sukacita. Matius 6:16-18 mengatakan, “"Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

NvR end

Aku berusaha untuk nahan sakit, waktu dia menelepon aku.
Aku berusaha untuk nahan nangis, waktu ngomong sama dia.
Aku berusaha untuk diam, waktu dia sedang berbicara.


Tuhan, sampai kapan perasaan ini terus menyakiti aku?
Tuhan, sampai kapan aku terus seperti ini ...

Jumat, 16 Agustus 2013

NvR --teruntuk kamu

Dear, God ...

Aku tidak tahu harus mulai darimana untuk menulis blog ini. Aku merasa bisu.
Tapi, Tuhan, pikiran dan hatiku selalu ingin berbicara.

Tepat, seminggu yang lalu Tuhan, aku dikejutkan dengan sms darinya. Tepat hari lebaran kemarin.
Aku yang baru pulang menenangkan pikiranku dari segala macam kepenatan. Aku yang baru pulang menepi di salah satu sudut kota Jawa. Lagi-lagi harus merasakan, perasaaan yang begitu pahit.

Beberapa hari tidurku tak tenang, beberapa hari ini hatiku sakit setiap ingat sms itu Tuhan. Hingga sekarang.
Aku, tak bisa menyebutkan sms itu. Tapi, aku masih menyimpannya. Kelak, aku bisa menghapus sms itu, dan menghapus namanya dari dalam hidupku.

Tuhan, aku pernah ada di posisi dia. Aku pernah merasakan dua hal yang sama sekaligus. Pertama, aku pernah ada di posisi dia sebagai orang yang berhubungan dengan seseorang yang berbeda, dan aku juga pernah berada di posisi perempuan itu. Aku pernah berada sebagai pihak yang dicampakan. Dilupakan, dan dikhianati sekaligus. Dan kini, dua orang itu -- dia dan perempuan itu sedang berada di posisi yang pernah kualami dulu. Aku sakit Tuhan, bukan lantaran aku patah hati, bukan Tuhan. Tapi, aku sakit karena aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk diriku sendiri. Aku hanya berpikir bagaimana, dulu aku ada diposisi dua orang ini sekaligus. Melewatinya. Betapa aku hancur saat itu. Aku merasa terpuruk, malu, dan kepahitan selama beberapa bulan.

Hingga ...
Hingga akhirnya aku memutuskan diri, untuk menyerahkan diriku padaMu Tuhan, saat itu. Aku pasrah. Aku mencarimu, melalui sahabat rohaniku, aku perlahan-lahan bisa bangkit, dan kini apapun jalan yang Engkau berikan. Aku pasrah menjalani keadaan itu yang kusebut dengan berkat berantai.

Tapi, Tuhan apakah aku harus sekali lagi menyakiti diriku untuk kedua kalinya. Aku bahkan tak pernah berpikir apa akibat dari semua yang kujalani sekarang. Aku bahkan tak  memperdulikan rasa sakit yang sebenarnya tak tertahankan ini. Semua tak kuperdulikan. Aku hanya ingin mencoba berdiri dan tidak menangis di hadapannya. Tuhan, aku ingin dia berubah. Meninggalkan semua itu. Tapi, jujur aku pun tak pernah tau caranya seperti apa.

Tuhan, setiap aku bersamanya, aku mencoba untuk tidak menangis, kecewa dan marah. Padahal hati ini ingin sekali marah dan menangis sejadi-jadinya. Mengeluarkan segala rasa sakit hati. Tidak perduli seberapa lama aku menangis, aku hanya ingin menangis. Tapi, itu tak kulakukan Tuhan. Mata ini hanya ingin memandang dia, mencoba merasakan apa yang dia rasakan. Hati ini tidak berontak, hanya ingin mencoba merasa iba dengan keadaan yang tengan di hadapinya. Dan mulut ini tak marah, hanya tak ingin berhenti berdoa untuknya. Aku cuma bisa berucap, aku mengasihinya, aku menyayanginya, orang yang sudah .... ahh dia dan perempuan itu--sudahlah, gak perlu mengungkitnya di sini.

Tuhan, jawablah doa-doaku Tuhan. Sampai kapan, aku merasakan sakit ini. Aku sungguh-sungguh tak kuat. Setiap aku membuka mataku dan memulai hari, cerita itu, kejadian itu, semua berlarian di kepalaku. Sakit Tuhan. Sakit. Meski dengan keadaan seperti ini, aku hanya bisa berdoa, supaya Tuhan menguatkan aku. Dulu aku pernah mengalaminya, kenapa sekarang aku tidak bisa melewatinya. Ini proses pendewasaan imanku, hatiku, dan pilihanku.

"Jika aku pergi, paling tidak aku tidak pernah menyesal pernah menyayangi kamu. Bahkan jika aku harus kehilangan kamu selamanya, aku tak pernah takut lagi. Karena, aku sungguh mengasihi kamu dengan segenap hatiku"


Teruntuk kamu, 

Orang yang tak akan kusebut namanya.


Salam,


Catherine