Rabu, 30 Mei 2012

Malaikat tanpa sayap



Malaikat tanpa sayap ,
Kamu terbang dan mencoba hinggap di ranting-rantingku …

Mengenal sayapmu …
Mungkin aku luluh, mungkin aku peluh ..
Tapi tidak mungkin  lagi …

Melihat kepak sayapmu …
Dulu aku nyaman, dulu akan aman …
Tapi tidak untuk saat ini …

Kamu malaikat datang tanpa sayap,
Mengintip-intip dari keramaian …

Mengawasi, mencoba hampiri aku yang berpeluh …

Kamu lihat aku lugu, kamu tau aku malu …

Kamu salah, aku tak selugu itu …


Kamu kira aku bodo, kamu pikir aku mau …

Tapi kamu keliru, aku tak sebodoh itu …


Terima kasih telah datang tanpa sayapmu …
Meninggalkan bulu-bulu seperti domba …

Ceritanya sudah usai, dan tak ada kata “LAINKALI”

Ending …..







L'Granos,

Cath

Sabtu, 05 Mei 2012

Mengandalkan Tuhan

Aku selalu dapat mengandalkan Allah, Bapa surgawiku,
Karena Dia tidak berubah, Dia selalu sama;
Kemarin, hari ini, selamanya, Allah itu setia,
Kutahu Dia mengasihiku, pujilah nama-Nya yang kudus.

Amin :)

Jumat, 04 Mei 2012

Rest In Heaven


Bertemu kamu aku menjadi lebih kuat.
Ku ingat bagaimana kamu mengajarkan aku melukiskankan pelangi saat langit mendung.
Menyapa petir saat hujan deras turun dan memayungi semua mimpiku agar tak tersapu dan hanyut bersama angan-angan.

Berjumpa denganmu membuat aku menjadi diriku sendiri.
Katamu, tak boleh menjadi orang lain. Bukankan setiap awan itu serupa, lalu apakah kamu mau serupa dengan awan lain ? Seorang aku begitu berharga untuk dirinya sendiri, bukan ?
Menggapai garis khatulistiwa yang mungkin luput dari jangkauan tangan mereka.

Bersama dengan kamu, mengajarkan aku bagaimana mencari dan menunggu.
Ditelingaku kamu berbisik sendu, tak perlu khawatir dengan apa yang hendakku cari. Karena aku telah menemukannya.
“Jika jodohnya itu dengan kamu, bagaimanapun caranya, kelak dia akan menggenggam rapat-rapat tanganmu, “

Oleh kamu, aku belajar menikmati rasa pahit kopi.
Panjang lebar kamu menjelaskan, ada rasa manis disetiap teguk kopi pahit. Kuingat kamu memaksaku menghapus airmata dan meneguk segelas kopi itu. Ingin kumuntahkan, lalu berlari dan berteriak, PAHITTTT”

Kamu berteriak, dan menganggap aku adalah orang paling idiot. “Anggap kopi adalah kehidupan, dan jadikan ampasnya sebagai kenangan. Bukti kamu kuat dan tidak lari dari kenyataan”. Aku semakin lunglai, mataku nanar, langkahku gontai. saat itulah kamu merengkuh tubuhku yang tak berdaya.

….
Bila sejak awal kusadari itu kamu, sudah sejak dulu aku tak akan pernah mencari. Aku tak akan pernah berlayar mencari yang memang bukan ditakdirkan untuk bersamaku.

Andai sejak awal, kupeka dengan bulir airmatamu saat merengkuh rapat tubuhku saat hujan itu, aku tak akan membiarkan kamu mencari yang lain, karena aku tau yang kamu cari hanya aku.
….
Kini kududuk rapat bersama denganmu. Melihat kamu tertidur pulas. dan aku meringis dalam hati, “Tak kah kamu lihat, aku berjaga semalaman hanya untuk menunggu senyummu, menghapus derai pilumu, “

Aku ingin terbang bersama kamu ke sana,  “Kelak di sana kita akan merengkuh awan itu bersama. Hingga tak ada lagi yang menggantikan senyummu,” ucapmu.


Kataku berbisik, “Tidurlah sayang, aku akan tetap terjaga dan menunggu kamu hingga terbangun".

"Besok aku akan menerbangkan layang-layang (lagi) ke angkasa untuk menyampaikan pesan ke penjaga semesta di langit biru, agar Ia tau aku merindu kamu di sini".

Rest in heaven ...

Loves, 

Cath

Minggu, 11 Maret 2012

Untukmu berwajah lucu ….

Aku lugu, aku malu …
Aku menangkis aku suka kamu …


Sungguh aku tergoda pula binar lugumu,
Seakan kaupun merayu …

Aku terpukau, akan wajah lucumu,
Namun aku meragu akankah kamu selugu itu ?

Aku tersipu saat kamu melucu,
Aku jelas melihat binar rayumu ,,,
Matamu sendu bagai langit ungu …
Dan kini aku takut, akankah kamu seperti yang kumau …

Kuhening, melipat tangan panjatkan syukur,
Segala nyanyian Tuhanku, untuk pujianku …
Kini aku menitipkan namamu, di dalam doa tengah malamku …
Semoga kamu yang Tuhan pilih, untuk menemani tidur lelapku.

-Amin-

Jumat, 25 November 2011

KOPER

Ini bukan pertama kalinya sosok satu abad ini membongkar bolak-balik isi kopernya. Entah apa yang dia perbuat dengan kopernya. Sering aku bertanya pada sosok berambut putih itu apa yang kerap dia lakukan dengan koper tua berwarna hijau tentara. Satu-satunya peninggalan harta setelah harta benda ludes dan habis terjual oleh dua orang anaknya yang selalu dikutukinya.

“Mencari harta yang masih tersisa dan memastikan tetap tersimpan rapi di dalam,” ujarnya tanpa mengindahkan pertanyaanku.

Aku kurang paham dengan jawaban yang dilontarkan. Seksama aku mengamati tangan rapuh itu mengeluarkan isi kopernya, memasukannya lagi, mengeluarkannya, merapikan kembali ke dalam koper itu.

Kutanya lagi karena aku masih penasaran. Apalagi saat hari pertama dia menginap di rumah kami. Aktvitas yang sama yang kerap diperbuat.

“Memastikan dan mengecek apakah hartaku satu-satunya masih tetap tinggal di dalam koper ini, “ pungkasnya tanpa melihat ke arahku. Kedua tangannya sudah sangat rapuh, tulang-tulangnya sudah sangat jelas terlihat. Daging ataupun kulit tak kuasa menutupi garis usianya.

Ini bukan sekali dua kali dia melakukan hal yang sama berulang-ulang. 10 jari tangan, 10 jari kaki pun tak cukup untuk menjumlahkan kebiasaannya. Ribuan kali dirinya melakukan hal yang sama.

Di pagi hari baru bangun tidur dia segera mengambil kopernya di pojokan bersebelahan dengan meja belajar, tepat di bawah jendela kamarku. Diseretnya koper itu, kemudian ditidurkannya. Sssrrreeettt, dia membuka resleting kancing koper yang sudah terdengar agak seret. Dibukanya lebar-lebar tas itu, dikeluarkan satu per-satu isinya. Diambilnya kertas Koran, mulai dari baju,sarung dan berbagai macam barang di bungkusnya dengan Koran. Begitu cekatan dan sangat rapih. Usia senja seperti ini, nenek tua itu patut diacungi jempol. Hidupnya yang resik dan sangat rapi dengan membungkus semua barang-barangnya dengan kertas Koran alhasil membuat dia lupa menaruh barang-barang pribadinya dimana, dan menuduh kami pelaku pencurian bersindikat keluarga.

Pernah satu rumah dihebohkan dengan hilangnya sandal hitam kesayangannya. Dia mengira ada pencuri menyeludup masuk ke dalam rumah dan mengambilnya. Setelah menyisir semua sudut di rumah. Kami berhasil menemukan sendalnya yang sangat rapih terbungkus berlapis-lapis kertas Koran.

Astaga sepasang sandal tua. Pencuri. Kertas Koran. Tumpukan Koran bekas. Heboh. Saat itu benar-benar menjadi ajang untuk emosi. Oke kembali lagi masalah koper.

Menurutku kebiasaan nenek tua ini begitu unik. Baru menit ini dia membongkar kopernya, disusunnya isi koper dengan rapih. Dan dikembalikannya lagi ditempat semula. Tidak sampai lima menit kemudian, dia kembali membongkar kopernya, menyusunnya, melepas bungkusan Koran, membungkusnya lagi. Merapihkannya lagi. Hufttt. Aku yang melihat sampai jengah dan bosan melihatnya. Tingkahnya ini melebihi dosis minum obat atau makan empat sehat lima sempurna per harinya. Dari pagi, siang, sore dan menjelang tidur malam.

Aku sempat penasaran isi koper miliknya itu. Rasa ingin tahuku semakin besar. Akhirnya kuputuskan membongkar kopernya saat dia sedang mandi dan astaggaaaa aku menemukan sesuatu ….

Bersambung

Rabu, 23 November 2011

Arghhhhh .......
Gw ga benar-benar pengen tahu. Semuanya. Muak ... Pengen melempar sesuatu.

Jumat, 18 November 2011

" Not sure if you know this, But when we first met
I got so nervous I couldn't speak "


Hahaha, sepertinya kalimat ini mengandung sesuatu yang bermakna dalam banget. Yup, berasa deg-deg-an kalo ketemu dia :D