Senin, 22 Agustus 2011

Goodnite my nite :)

Aku tak dapat berdiri.
Kaki lumpuh seolah tak mau digerakan.
Ah, kenapa ini ? Mengapa ini ?

Ah, mata ini tak mau terpejam.
Langit semakin pekat, tapi retina mata ini masih siaga menangkap setiap cerminan mimpi.

Ah, mengapa telinga ini tak mau mendengar. Seakan tuli dengan desiran angin dan pekikan burung hantu atau longlongan anjing.

Ah, mengapa mulut ini tak mau terkatup. Sekuat tenaga tak mengalir, namun nyatanya semakin deras.

Apa ini ?? "What happen ??".

Shitt, ini sudah malam, besok akan segera beranjak pagi.
Maka utaskan nafasmu ke angkasa dan jangkau semuanya dalam pelita tiada sinar.


Jangan banyak bertanya. Lakukan.
Kalau begitu selamat malam, langit malam. Besok kita perbincangkan lagi !!



Cheers,


Chat'z

Minggu, 21 Agustus 2011

Over Less

Aku sudah tertidur terlalu lama, terlalu terlelap dan belum tau kapan bisa bangun.
Ataupun beranjak dan mencuci semua isi kepala yang lama buntu.

Aku sudah terlalu lama berdiskusi dengan rasa hitam ini, terlalu banyak percakapan.
Ingin mengganti warna ini menjadi jingga, karena jingga sudah ada sejak lama. Jingga indah tiada tara.

Aku sudah terlalu lama berdiri, dan bahkan berlari di tempat.
Ingin memerintahkan sensor otak untuk melangkah keluar dari kubangan busuk ini. Mencari sesuatu yang menarik hati.

Bosan, marah, muak, dan semuanya larut dalam satu emosi.
Jengah, sepi, takut dan semuanya berkolaborasi dalam satu teriakan.

Rindu hujan, karena sekarang kemarau.
Rindu angin, karena sekarang terik.
Rindu malam, karena sekarang siang.
Rindu rindu rindu, aku rindu aku yang dulu. Dan semuanya begitu.

Ini hampir di ujung mimpi. Ibarat dalam satu pejaman aku mengurai benang kusut.
Mengutas rajutan menjadi sulaman cantik dengan mata terpejam.
Tak ada satu berkas memberiku pelita.

Arghh, cukup desahan omong kosong ini. Lakukan saja apa yang dikehendaki.
Huffttt, cukup saja mengeluh. Lebih baik tertawa bukan.


*Okeh, aku akan ke sana membangunkan diri sendiri.


Cheers,


Chat'z

Sabtu, 20 Agustus 2011

Sepotong Sunkiest Kuning

Sekarang sore menuju magrib,
Belum saatnya gelap.
Matahari masih sigap mengukir cahayanya.
Meski beberapa saat lagi akan ada perjanjian dengan langit.

Garis cakrawala merupa, segaris dengan laut.
Pertanda matahari tergusur dan langit malam segera bertugas.
keduanya berjabat tangan, untuk pergantian waktu.

Matahari perlahan-lahan pulang, tenggelam.
Sebelum akhirnya benar-benar menghilang,
Matahari memperagakan rupanya.
Bulat setengah lingkaran, kuning keemasannya memercikan warna di atas tubuh laut,
Indah, sangat memesona. Lembayung menari-nari jua.

Di mukanya kita duduk bersila, saling menyenderkan keluh kesah pada semesta.
“Hufttt, “ desah nafas kita beradu dengan angin sore itu.
Kusenderkan separuh kepalaku di gegap bahumu.
Kucium aroma tubuhmu yang bercampur dengan bau asin air laut.
Tubuh kita yang disorot matahari sore tampak berwarna semu gelap,
Dengan jarak pandang lepas, terlihat matahari sore tersenyum,
membentuk tubuhnya seperti sepotong Sunkist kuning.

Sepotong Sunkist kuning yang memberikan beraneka rasa, seperti kamu…

Ada saatnya manis, seperti matahari pagi,
Kadang pula kecut, saat matahari terik.
Juga terasa asam, ketika matahari sore,
Bahkan terasa pahit, begitu matahari pergi.
Ini analogi kamu, “Sepotong Sunkist Kuning”.

Laut, 27 Juni 2011
Cheers,


Chaterine

Jumat, 19 Agustus 2011

Catatan Kecil Ke 101

Ini catatanku yang ke seratus satu. Akhirnya, aku mampu menorehkan seratus rasa yang ku miliki selama bercumbu dan bercinta dengan benda maya yang selalu menarik hatiku untuk menjamahnya."Mini notebook en Facebook".

Di catatan pertama, kulukis catatan ini dengan penuh cinta. Yah, Cinta pertama pada benda maya yang selalu senang kusenggama. Cintaku pada benda maya ini melebihi cintaku pada diri sendiri hingga terkadang tak kuperdulikan perih melumat sendi-sendi sistem tubuhku dan aku mulai merinding mengeluarkan keringat.

Namun cintaku tidak melebihi cintaku pada Tuhanku yang menciptakan sepasang merpati yang sedang mengepakkan sayap, terbang mengelilingi langit, seperti aku yang menyenangi traveling. Dan sepasang merpati itu seperti aku dan dia yang kusebut dengan panggilan manis, "Lelakiku dan perempuanku".

Di catatan ke 50 bercerita tentang hidup yang penuh dengan perjuangan mempertahankan cinta pertama pada benda maya yang tidak pernah membalas senggamaku setiap malam. Dia hanya diam, bisu dan memandangku dengan tatapan nanar dan kosong, seperti menikmati setiap sentuhan tanganku yang mengelus-elus bagian atas. "Lembut dan tidak berbau" pikirku.

Di catatan ke sembilan puluh sembilan, bercerita tentang masa kelam dengan seorang pembohong nomor satu di muka bumi. Dan aku yakin dia akan menyesal.

Hingga akhirnya di catatan ke seratusku tertera list nama-nama baby yang kuharap ada salah satunya kelak menjadi nama malaikat yang akan kutimang, gendong bahkan kususui. Malaikat sekecil aku yang tercipta dari darah dan daging aku dan dia. Dan kulahirkan dari rahimku kelak.

Dan yang pertama setelah catatan seratusku, ini catatan pertama setelah seratus yang kusebut catatan kecil ke seratus satu... Ini awal perjumpaanku dengan hidup yang menggapai setiap mimpiku. Mimpi yang satu persatu Tuhan berikan padaku.
Mimpi yang setiap hari kugumuli, sakit yang setiap waktu kutahankan. Kini menguap dan terbang dan kini yang ada cuma aku dan dia.

Yah, "Aku dan perempuanku, "ucapmu waktu itu.
dan ku jawab senada dan setuju, "Aku dan lelaki jua, " senyum kecil yang akan membingkai perjalanan kita kelak.

Amin...
Jesus love yáll

Cheers,

_Ch_

Note : catatan yang kuunggah dari facebookku. Catatan yang menjadi sejarah penting untukku di tanggal 19 Mei 2011

Kamis, 18 Agustus 2011

Episode ...

Cerita terangkai …
Alur menjadi titian cerita …
Maju atau mundur itu pilihan.
Tak banyak tokoh yang harus tercipta,
Apalagi sekedar peran pembantu.

Biar kita bertindak sebagai tokoh utama sekaligus pencipta cerita.
Satu episode berakhir, dua, tiga begitu seterusnya …
Dan kini episode terakhir cerita tentang kecil.
The end ….

Rabu, 17 Agustus 2011

SELESAI

Kukubur kau sedalam-dalamnya.
Meski masih bernafas, tetap ku akan menimbun rupamu dengan dusta yang kau cipta sendiri.

Maaf, tak ada kesempatan perbaiki yang sudah rata dengan pertanyaan tanpa jawaban pasti.
Kesempatan tak akan dapat terulang lagi, sementara kau sia-siakan saat itu.

Kubakar kisah kita dengan api yang paling dahsyat, agar melebur menjadi debu dan mudah diterbangkan angin.
Usai sudah ratapan menjijikkan, telah selesai pertunjukkan manis ini.

Jika aku penonton kusita setengah ruangan tempat pertunjukkan itu berlangsung.
Agar kubisa mengemasnya menjadi cerita romantis nan tragis dan aku tertawa terbahak-bahak.
Hahaha... Seperti ini.

Biarkan aku membuangmu ke dasar laut yang paling gelap.
Dan ijinkan aku menghanyutkan cerita omong kosong ini ke tengah samudera agar segera merapat dengan bangkai dan tulang belulang.

Melajulah kencang kisah pahit ini, dan segeralah hampiri aku ke dermaga wahai hidup yang baru.
Agar ku mampu melambaikan senyum yang paling manis sementara dia berkelana entah ke mana.

Dan kuharap kata selesai dapat menguburnya dan semoga tak ada yang mencoba merecokinya ataupun melanjutkan dua atau tiga episode lagi.  
Karena pertunjukan sudah selesai.

Selesai ....  
The End ...
Fin ...


Cheers,


_Ch_

Selasa, 16 Agustus 2011

Sepenggal Cerita Kecil Tentang Kopi

 Maaf aku ingin pergi, pergi dari kesakitan ini.
Maaf aku harus jauh, jauh dari rasa sakit ini.
Maaf aku ingin sendiri, sendiri menyelinap masuk di antara kericuhan hati.
Dan maaf aku harus menyebrang, lewati laut mati ini.

Sudah cukup aku merasakan kelumpuhan langkahku,
Sudah cukup aku rasakan pil pahit yang kuracik sendiri,
Dan kini aku ingin melawan arus rasa, sekalipun harus berlari di atas air keruh,

Tak banyak yang akan terucap lagi, tak banyak lagi potret yang akan terukir lagi.
Kita sama-sama merasakan sakit yang luar biasa, dan kita juga pernah merasakan perjalanan yang luar biasa.
Pancaran itu akan tetap sama, entah sampai kapan. Mungkin sampai mata kita sama-sama  lelah menangis.

Tenang saja, langit kita masih sama. Meski tak lagi berpijak di tanah yang sama, paling tidak kita masih tinggal di bumi, berjauhan jaraknya hingga ribuan kilometer. Aku tahu cakrawala itu yang akan mempertemukan kita kelak.
Ku ingat setiap rasa yang kau tuangkan dalam gelas kopi pahit kehidupan, itu menjadi candu dan kini aku ingin berhenti menenggak rasa itu, karena akan ada musimnya aku tak suka kopi buatan tanganmu.

Kini biarkan kita sama-sama menyeduh racikan kopi buatan tangan kita sendiri dan menenggaknya seorang diri. Jangan biarkan siapapun mengambil rasa itu dari kita. Biarkan tetap menjadi ampas dan hanya kita yang tahu.

Dan rasa kopi itu dipisahkan oleh “Perbedaan”



Cheers,


_KECIL_