Ini catatanku yang ke seratus satu. Akhirnya, aku mampu menorehkan
seratus rasa yang ku miliki selama bercumbu dan bercinta dengan benda
maya yang selalu menarik hatiku untuk menjamahnya."Mini notebook en
Facebook".
Di catatan pertama, kulukis catatan ini dengan
penuh cinta. Yah, Cinta pertama pada benda maya yang selalu senang
kusenggama. Cintaku pada benda maya ini melebihi cintaku pada diri
sendiri hingga terkadang tak kuperdulikan perih melumat sendi-sendi
sistem tubuhku dan aku mulai merinding mengeluarkan keringat.
Namun
cintaku tidak melebihi cintaku pada Tuhanku yang menciptakan sepasang
merpati yang sedang mengepakkan sayap, terbang mengelilingi langit,
seperti aku yang menyenangi traveling. Dan sepasang merpati itu seperti
aku dan dia yang kusebut dengan panggilan manis, "Lelakiku dan
perempuanku".
Di catatan ke 50 bercerita tentang hidup
yang penuh dengan perjuangan mempertahankan cinta pertama pada benda
maya yang tidak pernah membalas senggamaku setiap malam. Dia hanya diam,
bisu dan memandangku dengan tatapan nanar dan kosong, seperti menikmati
setiap sentuhan tanganku yang mengelus-elus bagian atas. "Lembut dan
tidak berbau" pikirku.
Di catatan ke sembilan puluh
sembilan, bercerita tentang masa kelam dengan seorang pembohong nomor
satu di muka bumi. Dan aku yakin dia akan menyesal.
Hingga akhirnya di catatan ke seratusku tertera list nama-nama baby
yang kuharap ada salah satunya kelak menjadi nama malaikat yang akan
kutimang, gendong bahkan kususui. Malaikat sekecil aku yang tercipta
dari darah dan daging aku dan dia. Dan kulahirkan dari rahimku kelak.
Dan
yang pertama setelah catatan seratusku, ini catatan pertama setelah
seratus yang kusebut catatan kecil ke seratus satu... Ini awal
perjumpaanku dengan hidup yang menggapai setiap mimpiku. Mimpi yang satu
persatu Tuhan berikan padaku.
Mimpi yang setiap hari kugumuli,
sakit yang setiap waktu kutahankan. Kini menguap dan terbang dan kini
yang ada cuma aku dan dia.
Yah, "Aku dan perempuanku, "ucapmu waktu itu.
dan ku jawab senada dan setuju, "Aku dan lelaki jua, " senyum kecil yang akan membingkai perjalanan kita kelak.
Amin...
Jesus love yáll
Cheers,
_Ch_
Note : catatan yang kuunggah dari facebookku. Catatan yang menjadi sejarah penting untukku di tanggal 19 Mei 2011
Jumat, 19 Agustus 2011
Kamis, 18 Agustus 2011
Episode ...
Cerita terangkai …
Alur menjadi titian cerita …
Maju atau mundur itu pilihan.
Tak banyak tokoh yang harus tercipta,
Apalagi sekedar peran pembantu.
Biar kita bertindak sebagai tokoh utama sekaligus pencipta cerita.
Satu episode berakhir, dua, tiga begitu seterusnya …
Dan kini episode terakhir cerita tentang kecil.
The end ….
Rabu, 17 Agustus 2011
SELESAI
Kukubur kau sedalam-dalamnya.
Meski masih bernafas, tetap ku akan menimbun rupamu dengan dusta yang kau cipta sendiri.
Maaf, tak ada kesempatan perbaiki yang sudah rata dengan pertanyaan tanpa jawaban pasti.
Kesempatan tak akan dapat terulang lagi, sementara kau sia-siakan saat itu.
Kubakar kisah kita dengan api yang paling dahsyat, agar melebur menjadi debu dan mudah diterbangkan angin.
Usai sudah ratapan menjijikkan, telah selesai pertunjukkan manis ini.
Jika aku penonton kusita setengah ruangan tempat pertunjukkan itu berlangsung.
Agar kubisa mengemasnya menjadi cerita romantis nan tragis dan aku tertawa terbahak-bahak.
Hahaha... Seperti ini.
Biarkan aku membuangmu ke dasar laut yang paling gelap.
Dan ijinkan aku menghanyutkan cerita omong kosong ini ke tengah samudera agar segera merapat dengan bangkai dan tulang belulang.
Melajulah kencang kisah pahit ini, dan segeralah hampiri aku ke dermaga wahai hidup yang baru.
Agar ku mampu melambaikan senyum yang paling manis sementara dia berkelana entah ke mana.
Dan kuharap kata selesai dapat menguburnya dan semoga tak ada yang mencoba merecokinya ataupun melanjutkan dua atau tiga episode lagi.
Karena pertunjukan sudah selesai.
Selesai ....
The End ...
Fin ...
Cheers,
_Ch_
Meski masih bernafas, tetap ku akan menimbun rupamu dengan dusta yang kau cipta sendiri.
Maaf, tak ada kesempatan perbaiki yang sudah rata dengan pertanyaan tanpa jawaban pasti.
Kesempatan tak akan dapat terulang lagi, sementara kau sia-siakan saat itu.
Kubakar kisah kita dengan api yang paling dahsyat, agar melebur menjadi debu dan mudah diterbangkan angin.
Usai sudah ratapan menjijikkan, telah selesai pertunjukkan manis ini.
Jika aku penonton kusita setengah ruangan tempat pertunjukkan itu berlangsung.
Agar kubisa mengemasnya menjadi cerita romantis nan tragis dan aku tertawa terbahak-bahak.
Hahaha... Seperti ini.
Biarkan aku membuangmu ke dasar laut yang paling gelap.
Dan ijinkan aku menghanyutkan cerita omong kosong ini ke tengah samudera agar segera merapat dengan bangkai dan tulang belulang.
Melajulah kencang kisah pahit ini, dan segeralah hampiri aku ke dermaga wahai hidup yang baru.
Agar ku mampu melambaikan senyum yang paling manis sementara dia berkelana entah ke mana.
Dan kuharap kata selesai dapat menguburnya dan semoga tak ada yang mencoba merecokinya ataupun melanjutkan dua atau tiga episode lagi.
Karena pertunjukan sudah selesai.
Selesai ....
The End ...
Fin ...
Cheers,
_Ch_
Selasa, 16 Agustus 2011
Sepenggal Cerita Kecil Tentang Kopi
Maaf aku ingin pergi, pergi dari kesakitan ini.
Maaf aku harus jauh, jauh dari rasa sakit ini.
Maaf aku ingin sendiri, sendiri menyelinap masuk di antara kericuhan hati.
Dan maaf aku harus menyebrang, lewati laut mati ini.
Sudah cukup aku merasakan kelumpuhan langkahku,
Sudah cukup aku rasakan pil pahit yang kuracik sendiri,
Dan kini aku ingin melawan arus rasa, sekalipun harus berlari di atas air keruh,
Tak banyak yang akan terucap lagi, tak banyak lagi potret yang akan terukir lagi.
Kita sama-sama merasakan sakit yang luar biasa, dan kita juga pernah merasakan perjalanan yang luar biasa.
Pancaran itu akan tetap sama, entah sampai kapan. Mungkin sampai mata kita sama-sama lelah menangis.
Tenang
saja, langit kita masih sama. Meski tak lagi berpijak di tanah yang
sama, paling tidak kita masih tinggal di bumi, berjauhan jaraknya hingga
ribuan kilometer. Aku tahu cakrawala itu yang akan mempertemukan kita
kelak.
Ku ingat setiap rasa yang kau tuangkan dalam gelas kopi
pahit kehidupan, itu menjadi candu dan kini aku ingin berhenti menenggak
rasa itu, karena akan ada musimnya aku tak suka kopi buatan tanganmu.
Kini
biarkan kita sama-sama menyeduh racikan kopi buatan tangan kita sendiri
dan menenggaknya seorang diri. Jangan biarkan siapapun mengambil rasa
itu dari kita. Biarkan tetap menjadi ampas dan hanya kita yang tahu.
Dan rasa kopi itu dipisahkan oleh “Perbedaan”
Cheers,
_KECIL_
Selasa, 09 Agustus 2011
Ibaratnya …
Tinta sebagai sperma dan kertas sebagai ovum.
Menyatukan putih dengan hitam, menggoresnya perlahan-lahan.
Menyatukan lara dan tawa, isak dan jeritan. Erangan dan haru.
Menulis ibarat satu hati dalam dua tubuh.
Mengawinkan pria dengan perempuan dalam satu ikatan.
Menyatukan gagasan dengan ide. Menguntai kata menjadi makna.
Dan malam ini aku larut ingin bercumbu di atas pena dan kertas.
Merangkainya dalam alur, membariskan aksara dan memberinya makna.
Mengawinkan pria dengan perempuan dalam satu ikatan.
Menyatukan gagasan dengan ide. Menguntai kata menjadi makna.
Dan malam ini aku larut ingin bercumbu di atas pena dan kertas.
Merangkainya dalam alur, membariskan aksara dan memberinya makna.
Hingga esok singgah, aku masih ingin bergeliat, saling menatap dan menggenggam gejolak.
Tak ingin beranjak dan tetap meniduri tumpukan kertas serta noda-noda hitam ini.
Karena, belum tertuang semua cairan di dalam otak ini.
Menulis ibarat aku sedang kerasukan.
Meneriakan setiap kata dalam kertas. Menetesi makna dengan tinta.
Hingga menetes setiap keringat di atas kertas dan pena. Itu tak kuperdulikan.
Meneriakan setiap kata dalam kertas. Menetesi makna dengan tinta.
Hingga menetes setiap keringat di atas kertas dan pena. Itu tak kuperdulikan.
Kamu tau, aku jatuh cinta. Sangat dalam.
Aku merasakan gerayangan yang lebih dari sebuah sentuhan fisik.
Dan aku ketagihan. Ini puncaknya dan aku suka akhirnya,
Menulis ibarat menjalari sistem kerja otakku.
Dan aku menyenangi setiap cumbuan malam panjang ini.
Aku merasakan gerayangan yang lebih dari sebuah sentuhan fisik.
Dan aku ketagihan. Ini puncaknya dan aku suka akhirnya,
Menulis ibarat menjalari sistem kerja otakku.
Dan aku menyenangi setiap cumbuan malam panjang ini.
Karena, aku bernafas untuk rasa …
Ingin terus memahat kata di atas kertas dan mengukirnya dengan tinta.
Menulis, dan aku ingin terus menulis.
Dan itu untuk diriku sendiri.
Cheers,
Chat’z
Dedicated : untuk setiap tulisan, untuk setiap rasa dan untuk setiap hidup. Mengertilah !!!
Senin, 01 Agustus 2011
Minggu, 31 Juli 2011
ABSTRAKSI
Entah sudah berapa sekon, detik, jam, hari,bulan, tahun kini …
Aku masih menatap kamu dengan pancaran yang sama..
Dan kamu masih memberikan tatapan tanpa maksud.
Abstraksi dan realitas kembali bermain dengan logikaku,
Kuakui aku tak seelok rupa wajah pengantin mimpimu,
Ku sadari aku tak semegah pesona gadis impianmu…
Betapa, satu berbanding seratus aku dengan sosok merupa itu.
Kecupan gemulainya membuat getaran itu seakan kamu ingin mengulangnya dengan dia.
Aku masih berbahagia, aku masih bersorak, karena aku ingin bingkaian bibirmu menjadi pengobat sepiku malam ini. Aku ingin jernih binarnya matamu mampu menenggelamkanku ke alam berbeda dengan yang kupijak saat ini. Tuntun aku sejauh mungkin hingga tak kutemukan akal dan logikaku …
Lepaskan sedikit saja jeratan rasa abu-abu ini, agar ku mampu memaknainya.
Ulurkan sepersenti saja hembusan rasa abstrak ini, agar ku bisa menerjemahkannya.
Mengapa rasa ini begitu jauh, mengapa rasa ini begitu angkuh …
Dan sulit kuterjemahkan ……..
Sangat abstraksi merupai realitas semu
yang tak terkendali !!
Cheers,
_Ch_
Dedicated : untuk kamu yang sulit kuterjemahkan …
27 September 2010
Langganan:
Postingan (Atom)


