Kamis, 18 Agustus 2011

Episode ...

Cerita terangkai …
Alur menjadi titian cerita …
Maju atau mundur itu pilihan.
Tak banyak tokoh yang harus tercipta,
Apalagi sekedar peran pembantu.

Biar kita bertindak sebagai tokoh utama sekaligus pencipta cerita.
Satu episode berakhir, dua, tiga begitu seterusnya …
Dan kini episode terakhir cerita tentang kecil.
The end ….

Rabu, 17 Agustus 2011

SELESAI

Kukubur kau sedalam-dalamnya.
Meski masih bernafas, tetap ku akan menimbun rupamu dengan dusta yang kau cipta sendiri.

Maaf, tak ada kesempatan perbaiki yang sudah rata dengan pertanyaan tanpa jawaban pasti.
Kesempatan tak akan dapat terulang lagi, sementara kau sia-siakan saat itu.

Kubakar kisah kita dengan api yang paling dahsyat, agar melebur menjadi debu dan mudah diterbangkan angin.
Usai sudah ratapan menjijikkan, telah selesai pertunjukkan manis ini.

Jika aku penonton kusita setengah ruangan tempat pertunjukkan itu berlangsung.
Agar kubisa mengemasnya menjadi cerita romantis nan tragis dan aku tertawa terbahak-bahak.
Hahaha... Seperti ini.

Biarkan aku membuangmu ke dasar laut yang paling gelap.
Dan ijinkan aku menghanyutkan cerita omong kosong ini ke tengah samudera agar segera merapat dengan bangkai dan tulang belulang.

Melajulah kencang kisah pahit ini, dan segeralah hampiri aku ke dermaga wahai hidup yang baru.
Agar ku mampu melambaikan senyum yang paling manis sementara dia berkelana entah ke mana.

Dan kuharap kata selesai dapat menguburnya dan semoga tak ada yang mencoba merecokinya ataupun melanjutkan dua atau tiga episode lagi.  
Karena pertunjukan sudah selesai.

Selesai ....  
The End ...
Fin ...


Cheers,


_Ch_

Selasa, 16 Agustus 2011

Sepenggal Cerita Kecil Tentang Kopi

 Maaf aku ingin pergi, pergi dari kesakitan ini.
Maaf aku harus jauh, jauh dari rasa sakit ini.
Maaf aku ingin sendiri, sendiri menyelinap masuk di antara kericuhan hati.
Dan maaf aku harus menyebrang, lewati laut mati ini.

Sudah cukup aku merasakan kelumpuhan langkahku,
Sudah cukup aku rasakan pil pahit yang kuracik sendiri,
Dan kini aku ingin melawan arus rasa, sekalipun harus berlari di atas air keruh,

Tak banyak yang akan terucap lagi, tak banyak lagi potret yang akan terukir lagi.
Kita sama-sama merasakan sakit yang luar biasa, dan kita juga pernah merasakan perjalanan yang luar biasa.
Pancaran itu akan tetap sama, entah sampai kapan. Mungkin sampai mata kita sama-sama  lelah menangis.

Tenang saja, langit kita masih sama. Meski tak lagi berpijak di tanah yang sama, paling tidak kita masih tinggal di bumi, berjauhan jaraknya hingga ribuan kilometer. Aku tahu cakrawala itu yang akan mempertemukan kita kelak.
Ku ingat setiap rasa yang kau tuangkan dalam gelas kopi pahit kehidupan, itu menjadi candu dan kini aku ingin berhenti menenggak rasa itu, karena akan ada musimnya aku tak suka kopi buatan tanganmu.

Kini biarkan kita sama-sama menyeduh racikan kopi buatan tangan kita sendiri dan menenggaknya seorang diri. Jangan biarkan siapapun mengambil rasa itu dari kita. Biarkan tetap menjadi ampas dan hanya kita yang tahu.

Dan rasa kopi itu dipisahkan oleh “Perbedaan”



Cheers,


_KECIL_

Selasa, 09 Agustus 2011

Ibaratnya …

Menulis itu ibarat bercinta. Melarutkan tinta di atas kertas.
Tinta sebagai sperma dan kertas sebagai ovum.
Menyatukan putih dengan hitam, menggoresnya perlahan-lahan.
Menyatukan lara dan tawa, isak dan jeritan. Erangan dan haru.



Menulis ibarat satu hati dalam dua tubuh.

Mengawinkan pria dengan perempuan dalam satu ikatan.
Menyatukan gagasan dengan ide. Menguntai kata menjadi makna.
Dan malam ini aku larut ingin bercumbu di atas pena dan kertas.
Merangkainya dalam alur, membariskan aksara dan memberinya makna.


Hingga esok singgah, aku masih ingin bergeliat, saling menatap dan menggenggam gejolak.
Tak ingin beranjak dan tetap meniduri tumpukan kertas serta noda-noda hitam ini.
Karena, belum tertuang semua cairan di dalam otak ini.
Masih beku dan menjadi virus. Dan aku gila karenanya.


Menulis ibarat aku sedang kerasukan.
Meneriakan setiap kata dalam kertas. Menetesi makna dengan tinta.
Hingga menetes setiap keringat di atas kertas dan pena. Itu tak kuperdulikan.


Kamu tau, aku jatuh cinta. Sangat dalam.

Aku merasakan gerayangan yang lebih dari sebuah sentuhan fisik.
Dan aku ketagihan. Ini puncaknya dan aku suka akhirnya,
Menulis ibarat menjalari sistem kerja otakku.
Dan aku menyenangi setiap cumbuan malam panjang ini.


Karena, aku bernafas untuk rasa …
Ingin terus memahat kata di atas kertas dan mengukirnya dengan tinta.
Menulis, dan aku ingin terus menulis.
Dan itu untuk diriku sendiri.


Cheers,



Chat’z



Dedicated : untuk setiap tulisan, untuk setiap rasa dan untuk setiap hidup. Mengertilah !!!

Minggu, 31 Juli 2011

ABSTRAKSI

Entah sudah berapa sekon, detik, jam, hari,bulan, tahun kini …
Aku masih menatap kamu dengan pancaran yang sama..
Dan kamu masih memberikan tatapan tanpa maksud.
Abstraksi dan realitas kembali bermain dengan logikaku,

Kuakui aku tak seelok rupa wajah pengantin mimpimu,
Ku sadari aku tak semegah pesona gadis impianmu…
Betapa, satu berbanding seratus aku dengan sosok merupa itu.
Kecupan gemulainya membuat getaran itu seakan kamu ingin mengulangnya dengan dia.
Abstraksi dan realitas beradu dengan perasaanku,

Aku masih berbahagia, aku masih bersorak, karena aku ingin bingkaian bibirmu menjadi pengobat sepiku malam ini. Aku ingin jernih binarnya matamu mampu menenggelamkanku ke alam berbeda dengan yang kupijak saat ini. Tuntun aku sejauh mungkin hingga tak kutemukan akal dan logikaku …
Ini alam abstraksiku dengan realitas semu,

Lepaskan sedikit saja jeratan rasa abu-abu ini, agar ku mampu memaknainya.
Ulurkan sepersenti saja hembusan rasa abstrak ini, agar ku bisa menerjemahkannya.
Mengapa rasa ini begitu jauh, mengapa rasa ini begitu angkuh …
Dan sulit kuterjemahkan ……..

Sangat abstraksi merupai realitas semu 
yang tak terkendali !!

Cheers,



_Ch_

Dedicated : untuk kamu yang sulit kuterjemahkan …
27 September 2010

Senin, 09 Agustus 2010

S E L A M A T




 SELAMAT
Mungkin sudah terlelap saat ini dia, dengan membawa berjuta mimpi ke angkasa.
Dia telah menggiring cita, asa dan harapannya ke langit yang mungkin lebih tinggi.
Menjunjung kesempatan yang tak mungkin dapat digapainya lagi.
Aku tahu berbahagia dirinya untuk saat itu, namun akankah berlanjut seterusnya ?, Ku harap. Itu Doaku.

Betapa sempurna langit membingkai bumi, pelangi menggoreskan warna-warni.
Seperti itu kamu, ketika ku mampu melihat senyummu mampu terukir kembali.
Awan mendung berubah menjadi awan putih, karunia besar dari Tuhan, begitulah kamu.
Riak pembunuh, hewan pemangsa, angin perusak dan sebagainya, masa-masa itu kini telah terlewat, dan ku harap seterusnya. Entahlah. Amin.

Harus menangiskah ?, atau harus tersenyumkah ?. Entahlah.
Hanya seonggok daging bisu ini, mampu ucapkan "Selamat" di dalam hati.
Biar begitu seterusnya. Lebih baik seperti itu dari pada merubah akar tiga kali akar tiga, dengan buntut berkoma mengikutinya.

Ini keringatmu, bukan aku. Ini torehan tanganNya, bukan aku ataupun mereka.
Ini jamahan ajaibNya, bukan aku juga.
Siapa yang tahu mauNya, Tuhan. Tapi ini penantian panjang kamu. Mungkin, Entahlah.
Tapi berbahagialah kamu dengan hari bersejarah ini.
Satu lagi, pengharapan tak kan pernah sia-sia. Bukan menggurui, tapi begitulah.

Bersemangatlah selalu, seperti desir suara perempuan kecil mengucapkan dari jarak kejauhan puluhan kilometer "Aku tak berada di belakang, atau di depanmu ... karena mungkin saja aku bisa menghilang. Tapi aku berada di sampingmu." (menyedihkankah?? tidak, itu jawabku)

Dulu aku seperti kamu dan sekarang masa itu telah lewat. Dan aku mau kamu selalu bersemangat.
Jangkauan pikiranmu mungkin terlambat, TIDAK. Itu jawaban Tuhan.
Keindahan akan datang tepat pada waktu yang telah Tuhan Rancang, bukan kamu atau mereka...

Ini hari indah yang sediakan Tuhan bagi kamu. Jangan lengah atau lupa diri.
Masih ada hari-hari berikutnya...

Sekali lagi selamat. bukan karena aku,
tapi keinginan kuatmu untuk berubah dan Tuhan...


Cheers,


_Ch_

Dedicated : for Kamu yang harus selalu bersemangat ...