Senin, 19 Juli 2010

Semua Spectaculer >> Woooahh ...









Malamalam di Kota Batu-Malang ...

16 Juli 2010

= Aku selalu punya cerita =








Aku dan mereka meretas mimpi di sana....

Bromo Mountain, 13 Juli 2010

Me, Cha, Pau, Et, Ben en' Vi

Kamis, 15 Juli 2010

IPANG - MENUNGGU KESEMPATAN (OST BUKAN CINTA BIASA)

Satu kesalahan yang pernah kulakukan
Tak juga berhenti terus menghantui
Ku kira mampu untuk melupakanmu
Tapi hingga kini ku tak bisa

Berulang kali ku jatuh hati
Banyaknya cinta yang datang dan pergi
Ternyata hanyalah sementara
hanya sebentar saja ku bisa
Melupakanmu

Untuk yang terakhir kalinya
Jangan biarkan ku terus menyesali
Untuk yang terakhirn kalinya
Bisakah kau dengar
Ku minta kepadamu
Karena ku tak mampu
Tak mampu melupakannmu

Harus kupecahkan rahasia hatimu
Agar ku bisa kembali disana

Cinta di Atas Perahu Cadik

Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Dimuat di Kompas 06/10/2007



Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. Hayati yang biasa memikul air sejak subuh, sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai, membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali lidah ombak kembali surut ke laut. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai perahu tetap teronggok sejak semalam, sejak bertahun, sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu.

Para nelayan memang hanya tahu perahu. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu, gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu, seolah-olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki, bahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. Tentu, bagaimana mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu?

Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat, melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali, sekaligus bagaikan terlapis karet atau plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu-batu karang yang tajam tiada berperi.

"Sukab! Tunggu aku!"

Di pantai, tiba-tiba terdengar derum suara mesin.

"Cepatlah!" ujar lelaki bernama Sukab itu.

Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut, melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. Hayati berlari begitu cepat, seolah-olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. Ia meletakkannya begitu saja di samping gubuknya, lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab.

"Hayati! Mau ke mana?"

Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut, yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang terjadi. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang, lantas melangkah ringan sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan Hayati.

Perahu Sukab melaju ke tengah laut. Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk.

"Ke mana Hayati, Mak?"

Nenek tua itu menoleh dengan kesal.

"Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang, bukannya mengamuk malah merestui!"

Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Hayati dan Sukab saling mencintai, kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab, aku juga sudah bicara kepadanya."

Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan.

"Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!"

Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali, masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk.

"Cabut badik? Heheheh. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!"

Angin bertiup kencang, sangat kencang, dan memang selalu kencang di pantai itu. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya.

Pada akhir hari setelah senja menggelap, burung-burung camar menghilang, dan perahu-perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu, perahu Sukab belum juga kelihatan.

Menjelang tengah malam, nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain, menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya. Jawaban mereka bermacam-macam, tetapi membentuk suatu rangkaian.

"Ya, kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. Kulihat mereka tertawa-tawa."

"Perahu Sukab menyalipku, kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia."

"Oh, ya, jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin, mesinnya sudah mati, tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya."

Nenek itu memaki.

"Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!"

Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain.

"Aku lihat perahunya, tetapi tidak seorang pun di atasnya. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?"

"Ya, tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab, bukannya tambah penumpang, tetapi orangnya malah berkurang?"

Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang, nenek tua itu menggerundal sendirian.

"Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!"

Ia menuju gubuk Sukab. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu, di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria.

"Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?"

Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh, mulutnya bergemeletuk seperti sebuah mesin. Wajahnya pucat, berkeringat, dan di dahinya tertempel sebuah koyo. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Nenek tua itu melihat ke sekeliling. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain. Dipan yang buruk, lemari kayu yang buruk, pakaian yang buruk tergantung di sana-sini, meja buruk, kursi buruk, dan jala di dinding kayu, berikut pancing dan bubu. Ada juga pesawat televisi, tetapi tampaknya sudah mati. Alas kaki yang serba buruk, tentu saja tidak ada sepatu, hanya sandal jepit yang jebol. Sebuah foto pasangan bintang film India, lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit, dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat.

Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh, tapi mungkin ada juga yang lain. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini, di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka.

Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya.

"Mana Bapakmu?"

Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut, ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas.

Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala.

"Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!"

Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria.

Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa, ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu.

"Aku sudah tahu?"

"Apa yang kamu sudah tahu, Waleh?"

"Tentang mereka?"

Nenek itu mendengus.

"Ya, kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji, begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai, dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka, tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?"

Waleh yang menggigil hanya memandangnya, seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi.

"Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!"

Mendengar ucapan itu, Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara.

"Aku memang hanya orang kampung, Ibu, tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan yang mengumbar amarah menggebu-gebu. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat?dan jika dia bahagia bersama Hayati, melalui perceraian, agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan."

Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan kata-kata seperti itu, langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali, matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi.

Nenek tua itu terdiam.

Hari pertama, kedua, dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali, orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan, bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala, maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali, mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. Hal itu selalu mungkin dan sangat mungkin, karena memang sering terjadi. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang, atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi.

"Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan, perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita," kata seseorang.

"Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini, sejak dulu ia selalu berlayar sendiri, mana mau ia mencari ikan bersama kita," sahut yang lain, "apalagi jika di perahunya ada Hayati."

"Apakah mereka bercinta di atas perahu?"

"Saat kulihat tentu tidak, banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka."

Segalanya mungkin terjadi. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami.

Di pantai, kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu, menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. Kadang-kadang pula tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali, mereka seperti masih berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. Namun setelah hari keempat, tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali.

"Kukira mereka tidak akan kembali, mungkin bukan mati, tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta?"

***

Namun pada suatu malam, pada hari ketujuh, di tengah angin yang selalu ribut terlihat perahu Sukab mendarat juga, Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar kecilnya. Sukab tampak lemas di atas perahu. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar yang lebih besar dari perahu mereka, yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya menyengat sekali. Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah?tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini, setelah bahan bakar untuk mesinnya habis.

Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. Kulit terbakar, pakaian basah kuyup, dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning sekali?tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api cinta yang membara. Keduanya terdiam saling memandang. Keduanya mengerti, cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing, yang dengan ini tak bisa dihindari lagi.

Namun keduanya juga mengerti, betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini.

Sabang, Desember 2006/
Merauke, April 2007.

FOR INSPIRED ME

KE MANA PUN KAU MENOLEH
KITA BAKAL BERTEMU
KARENA KAU HANYA DAGING
BAKAL MENYERPIH DALAM SERATKU


KE MANA PUN KAU MENOLEH
KITA BAKAL BERTEMU
KARENA KAU HANYA TULANG
BAKAL MERAPUH DALAM SENDIKU

(BAKAL-GUS TF-2001)

.............

Aku tahu tempatku hanya disisa ingatan, bayang tertahan, yang setiap matahari muncul akan bergegas ditutup awan. Tolong,

Aku tahu tempatku hanya di karung catatan, berkas yang disisihkan, yang setiap sampai ke atas meja akan selalu dilupakan. Tolong ceritakan,

Aku tahu tempatku hanya diujung lamunan, tapal kepedulian, yang setiap tertangkap hanya bagian dari angan.

Tolong ceritakan, bagaimana bisa tetap punya harapan.

(Tolong-Gus TF-2002)

Minggu, 11 Juli 2010

+ ARION +

Dengan langkah malu-malu dan rambut masih acak-acakan dan wajah menunduk,aku dan kamu memasuki Gedung bersejarah bagi cerita perjalanan kita.
Masih ingat dikepalaku bagaimana cara kamu menungguku di depan toilet wanita setelah kita sampai di dalam.
Dan, saat itu aku dan kamu sekedar meretas persahabatan.

Sambil berjalan mengitari kokohnya pertokoan yang berdiri dengan berbagai macam barang dagangan, aku mulai sibuk mencari-cari apa yang sebenarnya bukan inginku.
Kita sama-sama berjalan, menaiki setiap anak tangga, meski kita tidak bergandengan tangan , tapi aku mampu pahami apa inginmu.
Kita hanya sengaja dipisahkan dinding curam yang berduri. Kamu ataupun aku tak kuasa mendaki dinding itu, untuk sekedar bertegur sapa, karena kamu dan aku takut sama-sama terluka oleh duri itu.

Di tempat itulah aku menanti harapan terbaik untuk rasaku dan rasamu. Meski aku tahu dengan pasti itu takkan berujung.

Di barisan tengah, kita duduk bersanding dengan para pengamat. Memugar cerita bersama sambil menyaksikan jalinan cerita audio visual di hadapan kita. Sekitar dua jam, itupun berlalu begitu saja.

Banyak cerita yang bergulir di dalam sana.
Tak hanya cerita roman itu yang menjadi sejarah, tapi perjalanan kita di tempat itu.
Saat itu juga kita sama-sama saling berbagi, memberi semangat dan membagikan cerita dari setiap kita. Sesekali tatapan kita bertabrakan dan aku memandang jernih matamu. Ini menjadi sejarah perjalanan mata indah itu.

Meski kita tidak saling bersentuhan, tapi aku mampu rasakan setiap sentuhan rasamu melalui tiupan angin dari mesin pendingin ruangan.
Kita lama sekali terdiam. Tak ada suara bergerumuh di sana. Hanya desakan nafas dan loncatan jantungku berlomba-lomba beratraksi.
Kudapan kentang goreng menjadi dingin dan beku, pasrah akan dicampakan di tong sampah. Ice cream vanila mencair membanjiri tepiannya. Tak satupun dari kita menyentuhnya.

Pada akhirnya, sebelum tepat pukul nol, kamu segera hentikan cerita ini dan waktu yang memaksa kita untuk mengakhiri perjalanan ini.

Di tempat itu, menjadi sejarah sekaligus pemicu amarah aku dan dia ketika tanpa sengaja kami berdua melintasi gerbang dan jalan protokol di depan Gedung berhiaskan lampu warna-warni.

Aku tak mampu benamkan rasa dan cerita itu hingga kini. Karena, kamu masih menjadi bayangan masa laluku yang hilang.

Di tempat itu awal bahagiaku dan akhir kesedihanku.

Arion ... punya cerita klasik dan akan menjadi sejarah panjang yang belum ada ujungnya ...


Cheers,


_Ch_

Dedicated for : Kamu, yang selalu menjadi tempat curahan perjalanan kita di tempat itu. Sungguh aku tak tahu keberadaan kamu, tapi aku mampu berharap dan menunggu cerita itu diputar kembali hingga puluhan tahun lagi. Karena, kamu aku mengenal arti seorang SAHABAT ....

Sabtu, 10 Juli 2010

Aku takut gelap ... (Kolaborasi Aku dan Kamu)



Biar gelap malam menemani kamu,..
rembulan yang akan terangi kakimu,
jangan takut gelap, "DIA tidak meninggalkan kamu" ....


Aku :
kemarin aku mengenal kamu dengan satu nama ...
kemarin aku menatap kamu dengan sepasang mata indah itu
kemarin masih sama ...
lalu ....

Kamu :
kemarin aku berusaha menatap mata itu lebih lekat,,,
menafsirkan setiap sudut yang bertepi disana

Aku :
tapi aku belum mampu, membalas sinar itu ..
terlalu silau dan aku takut semua menjadi gelap ...
sangat gelap, hingga aku menerawang mencari titik,
karena, aku takut gelap ...

Kamu :
sekuat daya aku menatapnya,
sehingga bila gelap itu memperkenalkan diri dan semakin akrab denganku,
setidaknya aku masih bisa mengambilnya dari masa lalu yang bernama kenangan.

Aku :
kenangan yang meninggalkan sejuta tanda tanya,
hingga kini belum mampu aku untuk menyalakan satu pijar di sana ...
entah itu lilin kecil, lampu temaram atau hanya disinari rembulan

Kamu :
tak mengapa, sinarmu mampu membasuh semua
yang kata rasaku adalah kering oleh sepi.

Aku :
sekalipun aku harus berangkat dari kegelapan ini
dan mengakhiri dengan kegelapan pula ...
haruskah ku cari satu pijar di antara kita atau terduduk diam,
membeku dengan satu pertanyaan besar

Kamu :
sedari tadi aku hanya bisa meraba,
menerawang dan mengira-ngira kemana gelombang rasa ini hendak berlabuh

Aku :
namun nyatanya, aku terperosok ke dalam
tanpa tahu apa yang ada di kegelapan itu
gelap sangat gelap....
aku mencoba mencari sinar itu dari matamu,
nyatanya pula tak kutemukan lagi. kamu menghilang ...

Kamu :
tangisku pecah,
kedapatan diriku hanya sendiri
tanpa mampu berteriak ataupun berbisik
ku gigit bibirku menahan semua ini...mengepalkan tangan sekuat tenaga ...
karena, aku takut gelap ..

Aku :
sepi yang tadi bersahabat denganku, lambat laun berteriak dan emosi " Diam kamu perempuan!!, apa yang hendak kamu tangisi??"
bukankah dia tidak pergi, kamu dan dia hanya masih di jalan gelap ini
kalian kini mencoba mencari sinar dengan cara hati kalian ...

Kamu :
gelap ini pun berkata bijak : aku lebih dari gelap yang kamu takutkan karena jalanku tak lurus,
aku ini labirin. tapi aku ada agar setelah ini kamu dapat melihat sinar yang lain dengan lebih jernih.
aku ini masa istirahat untuk retinamu, jadi nikmatilah dan jangan menangis lagi ...

Aku :
Tapi apakah aku mampu ... sekalipun kebaikan ini untuk sepasang retinaku,
apa ini baik untuk hatiku ?? dan mengapa kamu menggiring ku ke labirin itu ??

Kamu :
gelap tersenyum, ia merengkuhku.
simpulnya menghantarkanku pada diam yang lain.

Aku :
baiklah, aku tahu cara meredakan tangisku ...
setelah tangisku kering, maka kugolekan tanganku pada lembaran putih itu
dan menyaksikan jemari mungil ini menari-nari, mengalihkan pandanganku dari kamu.

Kamu :
gelap ini memang baik hati
tapi ia tak urung memberikan tiupan angin dingin yang membuat bulu romanku tegar.
lalu secarik asap hangat entah dari mana datang dan aku masih diam.
terdiam dengan waktu yang cukup lama ....

Aku :
bulir inipun mengalir ...
retinaku semakin panas, minta di sejukkan ...

Kamu :
tak ada yang bisa, satu-satunya cara hanya membiarkan semuanya larut,
lalu menghilang dalam segumpal tisu atau basuhan jemari kotor ini...

Aku :
Ku tarik nafas ini dalam...
lalu menghantarkan doa pada sang Ilahi, menumpahkan segala rasa...
dan membiarkan sinar matamu pergi melayang entah kemana. merimba, berkelana mungkin

Kamu :
dan air mata itu tetap tumpah, tak ada alasannya menampungnya karena itu sama saja menahan perih...

Aku :
Baiklah, cukup perih ini ...
tapi satu kata, aku tetap mengenal mu dengan satu nama, satu senyuman
dan satu sinar mata yang takkan pernah padam

Kamu :
gelap berkata : sejak lama sang empunya telah menanti engkau merunduk begini
aku pun pasrah menunggu mentari datang dan gelap tergusur ...

Aku :
lalu, haruskah ku torehkan itu dalam bilik-bilik yang bersembunyi ... sementara dia cuma gelap....
tapi, baiklah si empunya waktu akan menuntaskannya segera,
karena, dia tahu kamu takut gelap.. jadi bersabarlah ...

Kamu :
cukup aku lelah kini saatnya terpulas sebelum nanti terjaga lagi dan mencari jalan keluar labirin ini ..

Aku dan kamu :
Maka tuntaskan saja semua malam ini, sebelum kamu terjaga dengan setumpuk skenario hidup ...


Cheers,


_Ch_

For : paupau , sii penasehat nyata ... thanks for sharenya ...
ini hasil mimpi kita, cerita kita melalui dunia maya... lainkali kita retas kembali. Semuanya yahh !!!

100710 ...